Adrianto Gani Sharing my thought, opinion and ideas http://www.adriantogani.com/ Fri, 05 Sep 2008 20:31:25 GMT http://backend.userland.com/rss Scriblur Google Open Social, Era Baru Jejaring Sosial <div> <p>Sudahkah anda bergabung di salah satu portal jejaring sosial (social networking) seperti MySpace atau LinkedIn atau Facebook ? Data diri anda dan teman &ndash; teman anda, serta &nbsp;tautan dan rangkaian pertemanan yang terjalin itu, kini menjadi barang mahal dan berharga yang menjadi incaran para pelaku bisnis internet.</p> <p>Pada tanggal 30 Oktober 2007 yang baru &nbsp;lalu, Google secara resmi meluncurkan sebuah standar pemrograman atau API (Application Programming Interface) yang diberi nama Google <strong>Open Social. </strong>Standar ini memungkinkan pengembang software untuk membangun aplikasi yang di host dan dapat mengakses atau memanfaatkan data pribadi anggota dari beberapa portal jejaring sosial yang bergabung dalam project ini, seperti Orkut, Salesforce, LinkedIn, Ning, Hi5, Plaxo, Friendster, Viadeo dan Oracle. &nbsp;Selain dapat mengakses data pribadi, standar pemrograman ini juga memungkinkan sebuah aplikasi memanfaatkan informasi tentang relasi antar satu individu dengan individu lainnya, tentang aktivitas atau perkembangan &ndash; perkembangan yang terjadi yang relevan dengan profile individu &ndash; individu tersebut.</p> </div> <div>Google bukan yang pertama. Sebelumnya, portal jejaring sosial yang sedang naik daun, Facebook.com juga mengeluarkan &nbsp;apa yang disebut <strong>Facebook Platform. </strong>Standar pemrograman yang memungkinkan pengembang software untuk membangun aplikasi dengan mengakses data dan informasi dari individu &ndash; individu yang tergabung di dalam portal jaringan tersebut, atau yang mereka sebut sebagai <em>Social Graph</em>. Bedanya adalah, pengembang software harus menggunakan bahasa pemrograman yang khusus dikeluarkan oleh Facebook, dan aplikasi yang dihasilkan hanya dapat di host di Facebook. Sementara dengan Open Social, aplikasi yang dapat dibangung menggunakan javascript dan HTML ini dapat di host di berbagai portal yang turut berpartisipasi.</div> <div> <p>Apa yang ditawarkan oleh Facebook.com dengan platform developmentnya itu memang terbukti menarik minat banyak orang untuk mengunjungi dan berinteraksi di portal tersebut. Misalnya, bagaimana orang &ndash; orang menjadi antusias melihat siapa saja yang memiliki minat yang samat tentang jenis atau judul film. Kemudian, dari informasi tentang &ldquo;kesamaan&rdquo; dan &ldquo;ketidaksamaan&rdquo; itu, mereka bisa kemudian menganalisa data pribadi &ndash; pribadi orang lain, dan seterusnya. &nbsp;</p> </div> <div>Semakin menarik membayangkan apa yang dapat dilakukan dalam sebuah portal jejaring sosial. Tak cuma &nbsp;sekedar berbagi kata dan cerita, kini bergabung dalam portal jejaring sosial juga berarti berinteraksi dan berkomunikasi secara lebih interaktif dengan rekan &ndash; rekan di manapun mereka berada. Tak heran, perang memperebutkan data diri dan dan data relasi antar individu kini menjadi sesuatu yang serius dan melibatkan para pebisnis online dan software raksasa.</div> <div>Google sempat &ldquo;kecolongan&rdquo; dengan kesepakatan senilai 240 juta dolar Amerika yang dibuat antara Microsoft dan Facebook, yang menjadikan Microsoft sebagai pemegang hak beriklan di Facebook.com sekaligus memberikan kepemilikan portal jejaring sosial ini kepada konglomerat software itu sebesar 1,6%. Memang, Facebook saat ini dapat dikatakan menjadi <em>the raising star </em>dengan popularitas yang terus menjulang, dengan 73,5 juta unique visitor selama bulan September 2007, Facebook saat ini telah menjelma menjadi perusahaan bernilai 1,5 miliar dolar Amerika. Sebagai perusahaan dengan fokus iklan berbasis internet, Google tentu sangat menginginkan untuk dapat memiliki pula hak beriklan di Facebook yang diyakini dapat menjadi lahan subur bagi para pemasang iklan.</div> <div> <p>Kita lihat saja, apakah Google dengan para portal pendukung Open Social dapat menandingi Facebook yang didukung oleh Microsoft. Kita lihat saja bagaimana perang perebutan kue iklan di internet ini akan berkembang ke mana lagi setelah ini. Dan kita, sebagai individu &ndash; individu yang datanya sangat diinginkan oleh para pebisnis ini silakan saja menikmati berbagai fasilitas dan kegairahan ber-network ria melalui berbagai portal jejaring sosial.</p> </div> http://www.adriantogani.com/ShowPost.aspx?title=google-open-social-era-baru-jejaring-sosial administrator Fri, 02 Nov 2007 15:58:19 GMT Pesta Blogger, Kopdar Akbar Para Blogger <div style="margin: 0in 0in 10pt"><span style="font-size: 13pt; line-height: 115%"><font size="2">Hari Sabtu, 27 Oktober 2007 yang lalu, saya berkesempatan hadir dan menjadi salah seorang dari sekitar 500an peserta <a href="http://www.pestablogger.com">Pesta Blogger 2007</a>. Acara yang diselenggarakan di dalam sebuah ruang teater bioskop ini, memang mampu menarik minat para blogger, atau mereka yang berminat dalam kegiatan blogging. </font></span></div> <div style="margin: 0in 0in 10pt"><span style="font-size: 13pt; line-height: 115%"><font size="2">Untuk sebuah event yang mampu menarik jumlah pengunjung hingga 500 orang, event ini memang terasa cukup unik. Viral marketing saya yakini benar &ndash; benar bekerja selama beberapa minggu menjelang hari H. Para blogger, yang notabene memang para pewarta, secara simultan dan berjenjang terus menerus menyiarkan kegairahan acara ini. Entah apakah penyelenggara masih mengeluarkan biaya untuk kegiatan marketing pesta ini. Apalagi, beberapa media mainstream juga merupakan mitra yang mensponsori event ini. Dan mudah ditebak, jumlah peminat dan kapasitas tempat acara tidak imbang, hingga di hari &ndash; hari akhir menjelang hari H, pembicaraan justru lebih banyak seputar prosedur pendaftaran dan cara &ndash; cara alternative mendapat tempat. &nbsp;</font></span></div> <div style="margin: 0in 0in 10pt"><span style="font-size: 13pt; line-height: 115%"><font size="2">Pada hari pelaksanaan, kejutan - kejutan Menkominfo Muhammad Nuh, dengan mencanangkan 27 Oktober sebagai Hari Blogger Nasional dan pemberian sebuah laptop untuk pemenang blog terbaik dari yang terbaik, walaupun sangat menyemangati, tentu bukan yang terpenting. Kesempatan bertemu dan saling berbagi, adalah yang paling saya rasakan bermanfaat dari acara kopdar akbar ini. Format acara, yang memang sudah seharusnya, cair dan casual sungguh tepat diterapkan. Untunglah, porsi formal dan basa &ndash; basi serta satu arah hampir tidak terasa dalam acara kemarin. </font></span></div> <div style="margin: 0in 0in 10pt"><span style="font-size: 13pt; line-height: 115%"><font size="2">Memang, untuk acara dengan jumlah peserta besar dalam tempo 4 jam, yang terpenting adalah bagaimana sebanyak mungkin peserta memperoleh pengalaman sebanyak &ndash; banyaknya. Dan saya kira, untuk hal ini Pesta Blogger kemarin cukup berhasil menyediakannya. Soal kualitas peserta, memang masih sangat beragam. Walaupun acara ini dikasih label acaranya para blogger, toh beberapa yang saya jumpai di acara itu mengaku masih belum memulai menulis blognya. Tak apa, karena memang untuk itulah mereka hadir, supaya lebih diberanikan lagi untuk segera memulai petualangan blogging mereka.</font></span></div> <div style="margin: 0in 0in 10pt"><span style="font-size: 13pt; line-height: 115%"><font size="2">Untuk para penggagas acara, panitia pelaksana dan semua yang sudah menunjukkan passion yang luar biasa dalam mensukseskan acara ini, salut untuk anda semua. Semoga, pengalaman pertama ini semakin memberikan keyakinan dan kemauan serta kesadaran akan perlunya eksistensi mereka di industri yang baru cikal bakal ini menjadi sebuah industri yang sungguh &ndash; sungguh disegani.</font></span></div> <div style="margin: 0in 0in 10pt"><span style="font-size: 13pt; line-height: 115%"><font size="2">Selamat untuk hasil dari kerja keras anda semua!</font></span></div> http://www.adriantogani.com/ShowPost.aspx?title=pesta-blogger-kopdar-akbar-para-blogger administrator Sun, 28 Oct 2007 19:21:27 GMT Blogging Dalam Komunitas <div>Dalam acara <a href="http://www.pestablogger.com"><strong>Pesta Blogger 2007</strong></a> yang lalu, dari sekian ratus blogger yang hadir mengikuti acara tersebut, beberapa datang dan tergabung dalam beberapa komunitas yang mengusung ciri dan minat tertentu yang khas. Sebut saja di antaranya adalah komunitas Bunderan HI, AngingMammiri dari Makasar, Angkringan dan Cah Andong dari Yogya, Go Ranah Minang dari Padang, dan masih banyak yang lainnya.</div> <div> <p>Tidak sulit tentunya memahami munculnya komunitas &ndash; komunitas dengan basis homogenitas seperti ini. Rasa kedaerahan, solidaritas, kesamaan minat dan antusiasme komunal lainnya tentu menjadi sebuah daya tarik tersendiri buat seseorang untuk bergabung di dalamnya. Tak terkecuali para blogger.</p> </div> <div> <p>Walaupun tidak sebebas dan seleluasa kalau blogging di &ldquo;rumah sendiri&rdquo;, blogging dalam satu komunitas tertentu juga memiliki keasyikan tersendiri. Opini dan pesan yang ingin tersampaikan melalui blogging lebih langsung tersampaikan, paling tidak pada sesama anggota komunitas. Dibandingkan harus menunggu pengunjung yang hadir di website kita, seandainya kita punya blog website sendiri. Hal ini terutama untuk para pemula dan blogger dengan intensitas blogging yang tidak terlalu tinggi. Tentu saja, karena ini bukan rumah kita sendiri, kita juga harus lebih mawas diri. Jaga sopan santun dan tutur kata. Toleransi dan tenggang rasa dengan anggota lain.</p> </div> <div> <p>Namun yang terpenting sebenarnya, dengan kita menjadi bagian dari sebuah komunitas, atau bagian dari sebuah jejaring sosial, kita juga akan semakin diperkaya. Melalui komunikasi dan interaksi, pandangan dan wawasan, opini dan pengalaman yang dibagikan oleh orang &ndash; orang lain di sekitar kita.</p> </div> <div> <p>Buah pikiran atau opini, sharing cerita dan pengalaman kita akan tetap memiliki makna yang mendalam. Figur dan sosok kita akan tetap dapat &ldquo;terlihat&rdquo; bahkan menonjol, walaupun kita blogging di antara sekelompok orang. Karena sesungguhnya, yang terpenting bukanlah alamat website blog kita, apalagi teknologi yang digunakan, tetapi yang terpenting adalah apa yang kita sampaikan melalui blogging tentu saja.</p> </div> <div>Selamat terus nge-blog!</div> http://www.adriantogani.com/ShowPost.aspx?title=blogging-dalam-komunitas administrator Sun, 28 Oct 2007 18:11:19 GMT Jejaring Sosial Penggila Bola <p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><font face="Calibri" size="3">Sabtu, 25 Agustus 2007, pagi bertempat di IBM Hanggar Futsal, Jakarta Selatan saya berkesempatan bertemu dengan rekan &ndash; rekan pencinta bola yang tergabung dalam beberapa fans club kesebelasan &ndash; kesebelasan mancanegara. Hari itu, diselenggarakan turnamen futsal antar fans club yang diselenggarakan oleh radio Ramako FM. Saya hadir bersama dengan teman &ndash; teman dari <a href="http://www.berapaberapa.com">Berapaberapa.com</a>, situs komunitas pencinta bola, yang juga bermitra dengan beberapa fans club, dan beberapa di antaranya pagi itu ikut dalam turnamen tersebut. Mereka adalah <a href="http://www.berapaberapa.com/Website/MyClub.aspx?id=8">Juventus Forever Club Indonesia</a>, <a href="http://www.berapaberapa.com/Website/MyClub.aspx?id=1">Arsenal Indonesia</a>, <a href="http://www.berapaberapa.com/Website/MyClub.aspx?id=10">Indo Toon Army (New Castle United)</a> dan <a href="http://www.berapaberapa.com/Website/MyClub.aspx?id=9">Inter Club Indonesia (Inter Milan).</a> Satu fans club lain yang juga bermitra dengan Berapaberapa.com yaitu <a href="http://www.berapaberapa.com/Website/MyClub.aspx?id=11">Indonesian Laziali Community (Lazio)</a>, tidak berpartisipasi dalam turnamen ini.</font></p> <p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><font face="Calibri" size="3">Kehadiran berbagai kelompok penggemar fanatik tim - tim sepakbola dunia dari liga Inggris, Italia dan liga dunia lainnya ini memang semarak. Kebersamaan yang didasari pada kesamaan minat akan sosok sebuah tim sepakbola, menciptakan relasi dan kebersamaan melintasi rupa &ndash; rupa batasan sosial sebagai sebuah komunitas yang hidup dan aktif. <span style="mso-spacerun: yes">&nbsp;</span>Inilah satu bentuk lain dari sebuah jejaring sosial di mana setiap orang mempunyak pilihan untuk dapat bergabung menjadi bagian dari salah satu di antaranya. Beragam aktivitas seperti bergabung dalam tim futsal, bahu membahu berusaha memenangkan pertandingan, tentunya semakin menguatkan jalinan simpul kebersamaan jejaring ini. </font></p> <p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><font face="Calibri" size="3">Apa yang dapat dihasilkan dari sebuah komunitas seperti fans club ini dapat menjadi sesuatu yang luar biasa. Tak hanya sekedar kumpul &ndash; kumpul nonton bola bareng, atau sekedar berlatih sepakbola dan futsal, namun merekapun beraktivitas sosial yang bermanfaat langsung untuk masyarakat. Dari sisi peluang bisnis, jelas komunitas semacam fans club ini dapat menjadi peluang bisnis yang menggiurkan. Kecintaan dan kegilaan akan sosok pemain dan klub idola sangat lazim diwujudkan dalam penggunaan atribut &ndash; atribut klub. Mulai dari busana dan aksesorisnya, barang &ndash; barang koleksi, hingga penyediaan fasilitas untuk kegiatan aktivitas komunitas dapat menjadi peluang bisnis yang menarik.</font></p> <p class="MsoNormal" style="margin: 0in 0in 10pt"><font face="Calibri" size="3">Lagi &ndash; lagi, ayo kita menjadi bagian dari jejaring sosial. Ini kesempatan kita menjadi bagian dari jejaring yang besar dengan tingkat keragaman yang tinggi. Dan yang terpenting, inilah salah satu komunitas di mana untuk bergabung ke dalamnya, rasanya hampir tak ada alasan untuk terbeban. <span style="mso-spacerun: yes">&nbsp;</span>Have fun!</font></p> http://www.adriantogani.com/ShowPost.aspx?title=jejaing-sosal-penggila-bola admin Sun, 26 Aug 2007 23:36:59 GMT Menuju Kuliner Berkaliber Internasional via Internet <p>Wisata kuliner akhir - akhir ini semakin populer. Bukan hanya karena dipopulerkan oleh berbagai acara yang diproduksi oleh hampir semua stasiun TV swasta. Kisah - kisah dan liputan cerita seputar kudapan dan santap menyantap, juga semarak mewarnai konten situs web dan blog. Tak terkecuali di Wikimu.com. Beragam menu makanan, terutama menu khas daerah, menjadi primadona. Bahkan menu yang sebelumnya jarang atau bahkan tak pernah dikenal, mendadak menjadi menu makanan yang dicari banyak orang.</p> <p>Sebenarnya, soal berburu makanan khas daerah bukan baru - baru ini saja. Jauh sebelum bung Bondan Winarno berkeliling Nusantara mengucapkan &quot;mak nyuus!&quot; atau pak Mimbar serta Ukirsari memeriahkan Wikimu dengan artikel - artikel penggoda selera, masyarakat kita pada umumnya memang paling senang berburu santapan menu khas daerah, terutama bila sedang berkunjung ke suatu tempat.</p> <p>Coba lihat, bagaimana orang berebut mengacungkan uang untuk mendapatkan beberapa bungkus asinan atau roti unyil di <em>gedong dalem</em>, Bogor. Atau sabar berdiri menunggu meja kosong di batagor Rirs dan bakmi Naripan, atau berdesakan di meja counter Kartika Sari, Bandung. Atau sikut - sikutan berebut memadati meja pesanan bandeng Juwana, Semarang. Hal itu sudah menjadi pemandangan lumrah, terutama pada saat hari libur, sejak bertahun - tahun lamanya.</p> <p>Kini, dengan penyebaran informasi yang begitu dahsyat, perburuan kuliner memang menjadi semakin seru. Semakin piawai pak Mimbar atau blogger - blogger ahli kuliner lain bertutur, semakin ekspresif raut muka bung Bondan kala menyeruput sendok berisi kuah sedap, semakin sulit rasanya menahan air liur ini untuk tidak menetes. Dan, kitapun menjadi semakin bernapsu untuk benar - benar mencicipinya tatkala kita berada dalam radius jangkauan jejak langkah kita dengan menu idaman tersebut.</p> <p>Tak heran, muncul tempat - tempat makan khas yang sebenarnya juga sudah populer sejak lama, namun belum melegenda, kini mulai dicari. Angkringan nasi kucing di depan gereja Santa Anna dan di Fatmawati Jakarta Selatan, gudeg bu Mul Solo, pecel Yu Sri Simpang Lima Semarang adalah hanya sebagian contohnya. Informasi dan referensi yang beredar, terutama di komunitas pengguna internet, sangat dipercaya sebagai sumber informasi dan referensi yang dapat diandalkan.</p> <p>Beberapa tempat makan, yang mampu bertahan lama, apalagi hingga melewati beberapa generasi, di tengah serbuan menu makanan yang semakin bervariasi, umumnya telah menuai keuntungan berlimpah. Para pesaing harus berusaha keras untuk dapat merebut dan memindahkan pelanggan setia mereka. Kecuali pesaing baru menawarkan sesuatu yang luar biasa istimewa dan inovatif, kecil kemungkinan para pelanggan setia akan pindah ke lain hati.</p> <p>Di sinilah sebenarnya tantangan bagi para pengusaha makanan. Apakah mereka jeli melihat peluang dengan peningkatan jumlah pelanggan. Apakah mereka bisa mengantisipasi pertumbuhan bisnis mereka, ataukah membiarkan menu makanan, yang sesungguhnya sangat disukai masyarakat, tetap tersaji dalam kapasitas porsi yang terbatas untuk pelanggan lokal semata.</p> <p>Hal yang tidak terlepas dari pengelolaan bisnis modern yang berkembang pesat. Pengelolaan model bisnis keluarga dengan mengandalkan generasi berikut, atau dengan mengembangkan model waralaba hanyalah beberapa pilihan yang dapat ditempuh. Yang penting, bagaimana cita rasa yang khas tetap terjaga, ditambah dengan peningkatan layanan serta kenyamanan dalam bersantap, niscaya bisnis makanan ini akan bertahan lama dan menuai sukses besar di kemudian hari. Bakmi GM, Gado - gado Boplo, Es Teler 77 adalah beberapa contoh sukses menu makanan khas lokal yang mampu bertahan, tetap dicari, dan yang terpenting, tumbuh dan berkembang bersaing dengan begitu banyak menu santapan mancanegara yang sudah melegenda dan mendunia.</p> <p>Semoga saja, dengan adanya fasilitas penyebaran informasi dan referensi via media elektronik yang kini marak, turut andil mengorbitkan lebih banyak lagi menu - menu khas lokal yang melegenda dan bahkan mendunia.</p> http://www.adriantogani.com/ShowPost.aspx?title=menuju-kuliner-berkaliber-internasional-via-internet admin Sun, 26 Aug 2007 23:29:11 GMT